Dari PAUD ke Bangku Kuliah, Fondasi Belajar yang Masih Terasa
Dua dekade mungkin telah berlalu sejak seorang anak kecil melangkah ke ruang kelas PAUD Yayasan Balita Sehat (YBS) Indonesia di Cilandak pada 2008. Hari ini, anak itu telah tumbuh menjadi mahasiswa semester delapan di kampus Politeknik Negeri Jakarta. Ia adalah Sahnur (21) salah satu alumni PAUD Yayasan Balita Sehat Indonesia .
Bagi orang tuanya, Tiktik (48), perjalanan itu bukan sekadar cerita sekolah biasa. Ada fondasi yang dibangun sejak dini, yang hingga kini masih terasa dampaknya.
Fondasi Belajar Sejak Awal
Titik menceritakan kisahnya menyekolahkan kedua puteranya di PAUD Yayasan Balita Sehat Cilandak pada tahun 2008 untuk anak pertama dan tahun 2022 untuk anak kedua.
“Alhamdulillah, waktu anak masuk SD cepat bisa mengerti pelajaran karena sudah belajar dari PAUD. Sudah bisa baca,” tuturnya.
Menurutnya, kesiapan akademik menjadi salah satu perubahan paling terasa setelah anaknya lulus dari PAUD.
Tidak hanya itu, YBS Indonesia juga memiliki program kesehatan yang rutin dilakukan di sekolah. Anak-anak ditimbang, diperiksa, bahkan saat itu tersedia layanan dokter yang selalu tersedia di sekolah.
“Dulu ada dokter. Kalau sakit bisa sekalian diperiksa di sekolah dan gratis. Alhamdulillah, sangat membantu,” kenangnya.
Program beasiswa juga pernah menjadi bagian dari perjalanan anaknya yang pertama. Saat melanjutkan sekolah dasar, YBS Indonesia memberikan bantuan uang saku sekitar Rp100.000 setiap bulan untuk membeli buku dan alat tulis. Bagi keluarganya, dukungan itu berarti besar untuk pendidikan anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.
Bukan Hanya Anak yang Bertumbuh
Pengalaman di PAUD ternyata tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga pada orang tua. Saat anak keduanya sekolah di PAUD YBS Indonesia di Cilandak, Titik pernah mengikuti pelatihan keterampilan menjahit dan membuat mainan boneka jari (finger puppet) yang diadakan oleh Yayasan di tahun 2022. Hasilnya bahkan bisa dijual, tanpa perlu mengeluarkan modal pribadi.

Gambar: Titik (ketiga dari kiri), putera keduanya Tian (keempat dari kiri),
bersama guru-guru PAUD saat di pameran hasil kelompok usaha Womenpreneur tahun 2022
“Kita dapat ongkosnya. Semuanya dari yayasan,” katanya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan di PAUD tidak berhenti pada ruang kelas anak, tetapi juga merangkul keluarga.
Kenangan yang Tinggal dan Tumbuh
Sementara itu bagi sang anak, Sahnur, masa-masa di PAUD memang sudah lama berlalu. Namun beberapa kenangan masih melekat.


“Sudah lama banget, ya. Tapi ingat pas belajar bahasa Inggris bareng mister guru (guru tamu),” ujarnya sambil tersenyum.
Ia juga mengingat banyaknya buku di sekolah mulai dari buku cerita hingga buku sejarah yang dibacakan oleh guru. Salah satu guru yang paling diingatnya adalah Pak Woto.
Foto: Sahnur (kedua dari kanan baris atas) saat outing PAUD Yayasan Balita Sehat Cilandak di Museum Polri Jakarta tahun 2009

Foto: Sahnur mahasiswa di tahun 2026
Namun ada satu hal yang terasa paling membekas hingga kini: pola makan sehat.
“Yang kepakai banget itu (kebiasaan) makan real food. Sampai kebawa sampai sekarang. Terima kasih guru-guru masa PAUD saya yang dulu,” ucapnya.
Cerita Bu Titik dan Sahnur adalah salah satu jejak pendidikan yang baik tidak hilang begitu saja. Ia tumbuh bersama waktu dalam proses belajar di sekolah, dalam kebiasaan sehat, bahkan dalam rasa syukur.
Seperempat abad mungkin telah berlalu bagi yayasan. Namun bagi para alumni dan orang tua, fondasi yang ditanamkan sejak PAUD tetap hidup dalam perjalanan mereka hari ini.