Dari Belajar Bersyukur hingga Mulai Berdoa: Perjalanan Mama Bersama Program BUNDA

Foto 1: ( from left to right) cadre A holding mama A’s 2-week-old baby; YBS field staff; mama MDM 2 weeks after gave  birth in April 2026

Ketika Program BUNDA (Bersama Mendukung Ibu Sehat dan Bahagia) mulai hadir di Desa Watu Labara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Mama MM (40 tahun) sedang menjalani kehamilan ketujuhnya. Di usianya yang tidak lagi muda, kehamilan yang telah memasuki trimester ketiga tersebut tergolong berisiko. Selain menghadapi perubahan fisik dan persiapan persalinan, ia juga menjalani berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari sebagai ibu dari enam anak.

Mama MM lahir dan dibesarkan dalam keluarga penganut kepercayaan Kristen. Namun, selama bertahun-tahun ia mengaku jarang berdoa secara pribadi maupun mengikuti kegiatan ibadah di gereja. Dalam kesehariannya, ia juga jarang meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan mensyukuri hal-hal sederhana yang dimilikinya. Perubahan mulai terjadi ketika ia mengikuti Program BUNDA dan mendapatkan pendampingan rutin dari kader Posyandu di desanya. 

Program BUNDA adalah program pilot pertama kali di Indonesia yang dijalankan oleh Yayasan Balita Sehat Indonesia bersama bidan dan kader Posyandu untuk memberikan dukungan kesehatan mental  ibu hamil dan menyusui melalui pendampingan kunjungan rumah serta layanan Posyandu. 

Pendampingan dilakukan menggunakan pendekatan sederhana yang membantu ibu mengelola pikiran dan emosi, membangun dukungan sosial, menjalani kebiasaan hidup sehat, serta melakukan refleksi spiritual sesuai keyakinan masing-masing.

Dukungan Kader Posyandu

Kader A adalah kader Posyandu yang mendampingi mama MM sejak masa kehamilan tujuh bulan hingga  melahirkan.

Dalam setiap sesi pendampingan, kader A mama MM mengisi kalender aktivitas harian yang berisi berbagai latihan sederhana untuk menjaga kesehatan mental, termasuk melatih rasa syukur dan refleksi diri.

Gambar 1. Mama MDM was 7 months pregnant (left) when Mama A (right) made her second home visit in March 2026

Suatu hari, saat membahas bagian tentang rasa syukur, mama MM mengajukan pertanyaan padanya.

“Mama, saya mau bersyukur, tapi saya tidak tahu caranya. Saya mau berdoa.” Ia kemudian menjelaskan dengan sederhana bahwa rasa syukur tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Menurutnya, rasa syukur bisa hadir dari hal-hal yang sering kali dianggap biasa.

“Misalnya sesederhana kalau bangun tidur, yang pertama bisa mama syukuri adalah napas kehidupan. Kalau mama masih sehat, bisa berjalan, bisa melakukan aktivitas sehari-hari, itu juga berkat yang bisa disyukuri,”lanjut kader A menjelaskan.

Awalnya mama MM tertawa mendengar penjelasan tersebut. Namun perlahan ia mulai mencoba mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa waktu kemudian, ia mulai terbiasa mengucapkan doa syukur sederhana setiap hari.

Menemukan Kembali Kedekatan dengan Tuhan

Sejak itu mama MM mulai kembali berdoa secara pribadi, menghadiri ibadah di gereja, dan mengajak suami serta anak-anaknya untuk beribadah bersama. Bayi yang baru dilahirkannya pun telah dibawa ke gereja untuk menerima baptisan.

Baginya perubahan ini menjadi salah satu dampak yang paling dirasakannya selama didampingi kader A.

‘Terima kasih Tuhan karena masih memberikan napas kehidupan sampai hari ini,‘ menjadi salah satu doa yang sering ia panjatkan.

Perjalanan kehamilan dan persalinan yang dijalani Mama MM turut memperkuat keyakinannya. Setelah menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak ketujuhnya, ia merasa pengalaman tersebut membawanya semakin dekat dengan Tuhan. 

“Waktu operasi saya banyak berdoa supaya semuanya berjalan lancar. Puji Tuhan, semuanya berjalan baik. Saya merasa Tuhan menolong saya melewati proses itu,” katanya.

Ia mengaku bahwa pendampingan yang diterimanya telah membantu dirinya melihat hidup dengan cara yang berbeda.

“Sejak didampingi kader, saya merasa lebih bersyukur. Saya diingatkan bahwa ada banyak berkat dalam hidup saya. Sekarang saya lebih sering berdoa dan merasa lebih tenang.”

Dari yang sebelumnya tidak tahu cara mengelola emosi dengan rasa syukur, mama MM sekarang bahkan mulai mengajak anak-anaknya ke gereja.

Ketika Dukungan Keluarga Ikut Bertumbuh

Dampak pendampingan juga dirasakan dalam hubungan Mama MM dengan keluarganya.

Menurutnya, suaminya kini menjadi lebih perhatian terhadap kesehatan dirinya selama masa kehamilan maupun setelah melahirkan. Ia merasa pesan-pesan yang disampaikan selama kunjungan rumah tidak hanya diterima oleh dirinya, tetapi juga oleh anggota keluarga lainnya.

“Suami sekarang lebih memperhatikan kesehatan saya, mengingatkan makan dan minum yang baik. Saya senang karena selama kunjungan, mama kader banyak memberikan pemahaman sedikit demi sedikit kepada kami,” terangnya.

Bagi Mama MM, perubahan tersebut membuat dirinya merasa lebih didukung dalam menjalani peran sebagai ibu sekaligus mengasuh anak yang baru lahir. Di akhir pendampingan, ia menyampaikan harapannya agar dukungan seperti ini dapat terus berlanjut bagi dirinya dan anaknya.

“Bayi saya masih kecil. Kalau bisa, saya ingin pendampingan seperti ini tetap ada untuk kami ke depannya.”